Berkait asal-usul cerita Padukuhan Pendeman, Trimulyo Kabupaten Sleman. Konon ada cerita secara turun-temurun dari sejumlah tokoh sesepuh Padukuhan Pendeman, Trimulyo. Ceritanya, ada tokoh Mbah Kiai Pawit yang mempunyai pusaka berbentuk bawang lanang disebut Kiai Bawang Lanang. Bagi warga sekitar Padukuhan Pendeman Trimulyo dan sekitarnya, tokoh Mbah Kiai Pawit, saat ini dikenal dan sudah tidak asing lagi. Karena pusaka Kiai Bawang Lanang milik Mbah Kiai Pawit, dulu ada cerita mitos bisa dijadikan sarana untuk obat ketika anak kecil sakit panas atau gangguan kesambet ‘terkena gangguan makhluk halus’ dengan digosok menggunakan bawang lanang dicampur garam.
Bahkan hingga sekarang ini, menjadi mitos, kebiasaan mengobati dengan menggosokkan bawang lanang yang dicampur garam masih dilakukan masyarakat Padukuhan Pendeman Trimulyo, jika ada anak yang sakit panas atau terkena gangguan kesambet. Karena itu, asal mula nama Pendeman Trimulyo, ada kaitannya dengan sosok Mbah Kiai Pawit. Wajar, nisan Mbah Kiai Pawit di makam umum Pendeman, Trimulyo hingga sekarang ini masih ada dan dijaga kebersihannya.
Menurut cerita sejumlah tokoh masyarakat nama Padukuhan Pendeman, Trimulyo, dulu ketika Mbah Kiai Pawit, meninggal dunia tidak mempunyai keturunan anak. Karena Mbah Kiai Pawit, tidak mempunyai anak, maka pusaka Kiai Bawang Lanang tidak ada yang menerima warisan. Karena itu, pusaka Kiai Bawang Lanang, ikut pula dipendem di Makam Mbah Kiai Pawit. “Maka asal mula Padukuhan
Pendeman dari itu kata pendem,” cerita Boiman, sudah 22 tahun menjadi Kepala Dukuh Pendeman, Trimulyo Sleman.
Asal mula cerita Padukuhan Pendeman, Trilmuyo itu, digali oleh Boiman sekitar tahun 1975-1979. Kemudian mengenai soal sumber cerita dari sejumlah tokoh sesepuh Pendeman, Trimulyo yang dipandang mengerti tentang asal-usul cerita Desa Pendeman. Sejumlah tokoh sesepuh yang dijadikan narasumber di antaranya, Mustarjo (ayah Boiman, Pawirokarso (kakek, Partodikromo (pakdhe, Tomorejo, Tejo Hadiwaluyo (tokoh seniman ketoprak, Tomorejo, Trimorejo, Setroatemo, dan tokoh masyarakat Padukuhan Pendeman, Trimulyo lainnya.
Keberadaan makam Mbah Kiai Pawit yang ceritanya menjadi cikal bakal Pendeman, Trimulyo hingga sekarang ini, selalu dijaga kebersihannya oleh masyarakat. Termasuk, pada saat bulan penting, warga Pendeman, Trimulyo telah melaksanakan acara tradisi Jawa kenduri dan bersih desa yang diikuti masyarakat baik orang tua maupun kalangan remaja. Sehingga, gelaran acara tradisi Jawa kenduri yang sekaligus dijadikan momentum, menyampaikan pesan untuk masyarakat agar mengerti mengenai soal asal-usul cerita Desa Pendeman, Trimulyo Sleman.
Tradisi Jawa kenduri yang dilakukan warga Padukuhan Pendeman, Trimulyo, mulai dari kenduri Malam Selikuran, Ruwahan, Suran, Syawalan hingga Merti Desa. Sebelum pelaksanaan tradisi Jawa kenduri, masyarakat Padukuhan Pendeman, Trimulyo, selalu diawali dengan melakukan kerja bakti dengan semangat gotong royong membersihkan desa dan makam Mbah Kiai Pawit. Tradisi Jawa kenduri dan gotong royong bersih desa itu, sebagai bentuk melestarikan tradisi Jawa, dapat untuk menumbuhkan semangat guyub rukun, dan sekaligus sosialisasi menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa sosok Kiai Pawit itu, menjadi cikal bakal Padukuhan Pendeman Trimulyo.
Untuk pelaksanaan tradisi Jawa kenduri tersebut, ada yang diselenggarakan di rumah pendapa tengah yang selama ini dijadikan ruang publik warga Padukuhan Pendeman, Trimulyo. Namun ada pula, tradisi kenduri ruwahan atau nyadran yang dilaksanakan di area makam umum Mbah Kiai Pawit. Untuk menjaga kebersihan di area Makam Kiai Pawit, seminggu sekali setiap hari Jumat, masyarakat Padukuhan Pendeman melaksanakan kegiatan gotong-royong menyapu dan membersihkan rumput.
Cerita tokoh Mbah Kiai Pawit, pada era perang Diponegoro. Indikasinya, di sekitar Padukuhan Pendeman, ada sejumlah petilasan yang menjadi penanda yang berkaitan pada zaman perang Diponegoro. Antara lain, arah Lor Kulon ‘Barat Laut’ Padukuhan Pendeman Trimulyo, ada petilasan di sekitar Kali Sabrang, konon ceritanya tempat untuk persiapan perang para prajurit Diponegoro. Penanda lainnya, juga masih ada sampai sekarang ini, petilasan berupa Watu Kotak (batu gilang).
Menurut para tokoh sesepuh Padukuhan Pendeman Trimulyo, Watu Kotak itu, dulu digunakan tempat untuk bertapa Pangeran Diponegoro. Kemudian di sekitar Padukuhan Pendeman, juga ada petilasan goa (terowongan besar) yang sampai sekarang masih terdapat sumber mata air. Sejumlah tempat petilasan Kali Sabrang, Watu Kotak dan goa yang terdapat di sekitar Padukuhan Pendeman Trimulyo tersebut, bisa dijadikan penanda, dikaitkan tokoh Mbah Kiai Pawit yang mempunyai pusaka Kiai Bawang Lanang itu, diperkirakan pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro, melawan penjajah Belanda. “Kemudian di sebelah timur Watu Kotak, juga terdapat makam seorang pengembara dari trah keluarga Keraton Yogyakarta, namanya Kiai Pepe, saat ini yang menjadi juru kunci Mujiyono,” papar Boiman.
Dikatakan Boiman, pada perkembangannya wilayah Padukuhan Pendeman Trimulyo, saat ini terdiri 5 RT dari R 1-5, 2 RW, yaitu RW 9 dan RW 10, situasi dan kondisinya berbeda, dibandingkan dengan era tahun 1950-1970-an. Bahkan sekarang ini, di wilayah Padukuhan Pendeman, Trimulyo, masyarakat sudah mengalami regenerasi dan perkembangan kemajuan pembangunan. Termasuk bangunan rumah yang dijadikan rumah tinggal dan jalan di wilayah Padukuhan Pendemen Trimulyo. Perkembangan masyarakat Padukuhan Pendeman Trimulyo, tentang kemajuan pembangunan.
Terutama hal tersebut dapat dilihat dari bangunan rumah dan jalan- jalan di wilayah Padukuhan Pendeman Trimulyo Sleman. “Yang menggembirakan, meski perkembangan masyarakat tentang regenerasi dan kemajuan pembangunan, hingga saat ini masih tetap mempunyai kesadaran untuk melestarikan tradisi bersih desa, tradisi Jawa kenduri, dan menghormati dengan para tokoh sesepuh yang menceritakan secara turun- temurun mengenai asal-usul Padukuhan Pendeman, Trimulyo Kabupaten Sleman,” tambah Boiman.
Boiman mengungkapkan, selama 22 tahun menjadi dukuh, ia selalu berupaya untuk mengedepankan pelayanan secara maksimal untuk kepentingan masyarakat Padukuhan Pendeman Trimulyo. Selain itu, juga berusaha agar masyarakat Pendeman, Trimulyo, selalu mengembangkan dengan semangat membangun kebersamaan gotong royong guyub rukun, saling menjaga tepa selira (Tenggang Rasa), dan saling menghormati untuk menciptakan suasana ayem tenterem. “Ketika melaksanakan pembangunan di wilayah Padukuhan Pendeman Trimulyo, dengan modal mengedepankan semangat kebersamaan gotong toyong, guyub rukun dan saling menjaga tepa selira itu, bisa berjalan lancar. Misalnya, masyarakat melaksanakan pembangunan jalan, tempat ibadah masjid di Padukuhan Pendeman Trimulyo,” cerita Boiman.
Dia menambahkan, sebagai dukuh mendapat tanah bengkok di dekat jembatan Kali Bedog, Pendeman Trimulyo. Semula tanah bengkok tersebut, tampak terkesan wingit dan tidak produktif. Kemudian secara pribadi pada tahun 2015, muncul niat baik menjadikan tanah bengkok tersebut sebagai Taman Kali Bedog.
Pada saat membangun Taman Kali Bedog itu, diawali menanam dua pohon kanthil kuning dan kanthil putih. Ketika mulai membangun Taman Kali Bedog itu, mendapat dukungan dari seseorang. Akhirnya, pembangunan Taman Kali Bedog bisa terwujud, bersih, dan nyaman dapat bermanfaat untuk masyarakat. Kebetulan ada teman yang memberi berupa patung perempuan, agar dirawat dan dipajang di Taman Kali Bedog untuk menambah kesan indah dan asri. Taman Kali Bedog yang sekarang tampak bersih, asri, dan nyaman, dapat bermanfaat bagi masyarakat. Selama ini, sangat bermanfaat untuk masyarakat terutama digunakan untuk area anak-anak bermain dan belajar. “Kini, Taman Kali Bedog itu, masih akan ditambah bangunan rumah pendapa agar lebih bermanfaat dan terkesan lebih asri,” tutur Boiman.
Bagi Boiman, ketika membicarakan berkait soal cerita tokoh Mbah Kiai Pawit, asal-usul Padukuhan Pendeman Trimulyo, mendapat kanthil kuning, bibit pohon kanthil kuning dan kanthil putih serta bisa terealisir membangun Taman Kali Bedog itu, sangat terasa dan tersentuh. Terlebih, saat ini masyarakat Padukuhan Pendeman Trimulyo, bisa menghargai cerita tentang tokoh Mbah Kiai Pawit yang menjadi cikal bakal Padukuhan Pendeman Trimulyo. Sebagai dukuh Pendeman Trimulyo, bersama masyarakat mempunyai semangat kebersamaan gotong royong, melestarikan tradisi Jawa kenduri. “Selain itu, juga dapat dijadikan media berkomunikasi berinteraksi antarmasyarakat, dan sekaligus sangat efektif untuk menyisipkan pesan yang berkaitan dengan cerita tokoh Mbah Kiai Pawit, asal-usul cikal bakal Padukuhan Pendeman Trimulyo Sleman,” kata Boiman.
Penulis : Surasa Khocil Birawa